Jumat, 17 Juni 2016

Kolam cinta Jolotundo





Oleh : Lailatul Nuroniyah
Guru SD Plus Al-Kautsar Malang
fb.com/lailatul.nuroniyah



BERKUNJUNG ke Mojokerto tak lengkap bila tak menyinggahi tempat tetirah pemandian sumber mata air alami, Jolotundo. Terletak di lereng Gunung Penanggungan, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, keunikan Jolotuno adalah debit airnya tak pernah surut meski di musim kemarau panjang. Berdasar penelitian, kualitas air di Jolotundo ini sangat baik dan kandungan mineralnya sangat tinggi.



Menuju Jolotundo, semilir angin sejuk dari balik pepohonan pinus dan cemara yang banyak tumbuh di sisi jalan menjadikan perjalanan terasa nyaman. Panorama alam menawan, hijau persawahan, dan birunya Gunung Penanggungan menambah semangat untuk segera tiba di lokasi. Sesampainya di depan pemandian, susunan batu bekas candi yang tersusun rapi yang pertama menyapa. Pendopo dan gazebo di sna bisa dimanfaatkan untuk rehat.



Kolam pemandian Jolotundo atau kolam Udayana, Raja Bali ini disebut juga sebagai kolam cinta. Sejarah menautkan, keberadaan Candi Jolotundo (997 M) yang dipahatkan di sisi kanan tulisan Yenpeng kiri dinding belakang.



Sejarah berkisah bahwa Raja Udayana dari Bali menikahi Putri Guna Priya Dharma dari Jawa. Dari perkawinan lahirlah Airlangga (991 M). Jadi medio 997 M dianggap sebagai tahun pembuatan kolam cinta yang dipersiapkan Udayana. Candi ini merupakan monumen cinta kasih Raja Udayana untuk menyambut kelahiran anaknya, Prabu Airlangga, yang dibangun 997 M.



Satu dari dua kolam mandi itu memang tempat mandi sekaligus berendam sang ratu. Satu kolam lainnya untuk sang raja. Hingga kini, pembagian tempat berdasarkan gender tersebut masih berlaku bagi pengunjung. Di dinding batu khas bangunan candi itu diberi petunjuk pria di kolam mandi sisi timur, dan kolam mandi untu perempuan ada di sisi barat.



Karena Candi Jolotundo adalah pemandian ratu, tak sedikit pengunjung yang datang ngalap berkah dengan mandi di sini berharap secantik ratu di masa itu. Terlihat, pengunjung baik laki-laki maupun perempuan tak segan-segan menceburkan diri mandi di bilik  terpisah itu. Banyak yang meyakini mandi di pentirtaan ini bisa membuatnya awet muda, terbebas dari berbagai penyakit, utamanya penyakit kulit.



Tak sedikit juga terlihat di antara pengunjung membawa botol, jerigen bahkan galon air minum untuk membekal air Jolotundo. Mereka meyakini air yang keluar dari pancuran ini berkhasiat.




Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: surya cetak

Menaklukkan Waswas di Trawas



Minggu, 24 Mei 2015 19:14
Oleh : Lailatul Nuroniyah
Guru SD Plus Al-Kautsar Malang
fb.com/Lailatul Nuroniyah


SELAMA dua hari, Selasa-Rabu (28-29/4), 41 siswa SD Plus Al-Kautsar Malang mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar kepemimpinan dewan anak angkatan ketujuh, di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto.


Sebagai tempat pendidikan dan ekowisata, PPLH Seloliman Trawas dilengkapi penginapan menarik dengan konsep arsitektur unik. Beberapa guest house yang menampung empat hingga enam orang atau satu keluarga, bungalow, juga asrama. Suasana alam dengan konsep penataan lingkungan yang bersih dan sehat, terasa sejuk dan nyaman langsung dirasakan begitu menginjak Seloliman, Trawas.


Tak heran bila PPLH sering menjadi tempat rujukan bagi pelajar mulai TK hingga perguruan tinggi yang ingin belajar tentang alam dan lingkungan hidup. Panorama alam yang indah, gemericik air mengalir dari sungai kecil dan udara segar khas pegunungan masih mendominasi.


Percontohan sistem pertanian organik tanpa merusak lingkungan, tanpa pemakaian pupuk kimia dan pestisida bisa dipelajari di sini yang diharapkan mampu membangun pola pikir pengunjung dan proses pembelajaran bagi petani di sekitar PPLH Seloliman.

Salah satu fasilitas yang dikelola PPLH adalah Restoran Alas. Restoran ini menyediakan menu masakan serba alami. Bangunan terbuka di pinggir hutan dan dikelilingi kolam ikan menawarkan tantangan bagi siapapun yang ingin berinterkasi langsung dengan alam sambil menikmati santapan yang disajikan.
  
Di sini pengunjung dapat menikmati hidangan yang terjaga kualitasnya karena sejak proses pengolahan hingga penyajiannya tak diimbuhi bahan-bahan tambahan kimia seperti penyedap, pewarna, pengawet, dan lain-lain. Nah, bagi yang ingin berinteraksi langsung dengan alam, Trawas menjadi pilihan tepat untuk menaklukkan rasa was-was.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: surya cetak

Sensasi Santap Tanah dalam Pot



Kamis, 14 Mei 2015 19:44

Oleh : Lailatul Nuroniyah
Guru SD Plus Alkautsar Malang
fb.com/lailatul.nuroniyah


JALAN-JALAN di Kota Malang tak lengkap bila tak mengunjungi tempat-tempat unik dan menjajal kuliner asyik. Bagaimana tidak? Malang mempunyai segudang destinasi apik, menarik, dan unik. Re & Fort Garden Cafe, salah satunya.

Cafe ini sangat unik karena hanya di sini pengunjung dapat menemukan tanaman cake. Tidak hanya menunya tapi juga interior dan konsep yang ditawarkan berbeda dari cafe biasanya.
 Cafe yang baru buka beberapa bulan yang lalu ini cukup populer di Kota Malang. Semakin hari café ini semakin popular khususnya di kalangan anak muda karena keunikannya.
 Dengan ide dari pemilik yang membuat café ini bertema garden dengan tempat penyajian laiknya kebun, dan dekorasi ruangan yang penuh dengan tanaman hias cantik. Soal harga jangan khawatir, tidak hanya terjangkau kantong tapi juga nyaman di perut. Harga yang ditawarkan mulai Rp 10.000 sampai Rp. 25.000.
 Menu spesial Re & Fort Garden Cafe ini adalah plant cake, yaitu cake yang disajikan di dalam pot. Dengan cake brownies hitam dan cokelat oreo yang dihancurkan tampak seperti tanah yang ditanami bunga. Rasanya pun tak kalah lezat dengan cake-cake lainnya. Hanya saja cake yang dijual di cafe ini disajikan dengan tampilan yang lebih unik dan menarik.
 Banyak varian rasa serta toping yang bisa dipilih sesuka selera. Selain menu utama, cafe yang buka mulai pukul 13.00 sampai 22.30 ini juga menawarkan  menu-menu lain yang tidak kalah menariknya untuk coba.
 Bagi yang kurang suka cake atau makanan yang manis-manis, café ini juga menyediakan nasi, pasta, snack berupa kentang, tahu, dan ayam cincang goreng tepung. Minuman segar yang juga menjadi pilihan enak adalah hot tea tarik, lemon tea ice, mocca tea ice, hot tea, serta aneka jus.
 Nah, buat yang penasaran dengan rasa plant cake ini, bisa datang langsung ke Re & Fort Garden Cafe yang ada di Jalan Terusan Kawi 4 Malang. Selamat mencoba.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: surya cetak

Senin, 13 Juni 2016

MANISNYA PETIK MADU




RASA manis madu tentu tak asing lagi bagi kita. Tapi, tidak banyak yang tahu bagaimana cara lebah  menghasilkan madu, jenis-jenis lebah, bagaimana bentuk sarang lebah, tarian lebah, serta produk-produk lebah lainnya. Itu semua yang dipelajari siswa kelas 1 SD Plus Al Kautsar Malang saat mengunjungi wisata petik madu di Lawang, Malang, belum lama ini berkenaan dengan pembelajaran tematik bertema pengalamanku yang menerapkan metode contekstual learning.



Hamparan kebun bunga berwarna oranye dan kuning menyambut setiap pengunjung. Di tengah lokasi wisata terdapat aula besar tanpa dinding, digunakan sebagai outlet penjualan produk lebah, depot makan sekaligus sarana pengenalan dan pembelajaran tentang seluk beluk lebah madu. Lapangan terbuka di sekeliling aula dan deretan gazebo serta puluhan rumah lebah melengkapi pesonanya.



Sebagai obyek wisata edukasi, Agro Tawon wisata petik madu ini menyediakan paket presentasi untuk memperkenalkan lebah kepada pengunjung. Di sini mereka dapat belajar tentang pola hidup dan  teknis beternak lebah sampai proses memanen madu.



Mengunjungi Agro Tawon pengunjung tak ditarik tiket masuk. Sesuai tujuan semula, tempat ini digunakan untuk pembelajaran bagi para peternak lebah yang ada di Lawang. Seiring berjalannya waktu, tempat ini beralih fungsi menjadi agro wisata.



Di Agro Tawon terdapat beberapa jenis lebah penghasil madu yang dibudidayakan. Dari lebah lokal yang ganas tetapi tak berbahaya, lebah kecil dan tak menyengat bahkan lebah dari Australia. Produk yang dihasilkan lebah ternyata bukan hanya madu saja. Lebah dapat menghasilkan bermacam produk, dari madu, royal jelly, bee pollen dan propolis (getah tanaman yang dihisap lebah).



Ada pula lilin lebah yaitu hasil pembakaran limbah sarang lebah dan larva lebah. Di wisata petik madu ini, pengunjung terutama anak-anak diajak memanfaatkan limbah tersebut menjadi patung lilin yang menarik. Selain, pengunjung bisa membeli oleh-oleh produk lebah atau madu yang sudah jadi ini di stan yang tersedia di sana.





Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak    

TAHU SAMA TAHU AL-KAUTSAR



MENGENALKAN jiwa kewirausahaan sejak kecil, itulah yang tengah diterapkan SD Plus Alkautsar, Kota Malang kepada para siswa. Sekolah yang juga berbasis lingkungan ini memperkenalkan tentang produksi mini tahu istimewa dan minuman sari kedelai. Untuk itulah SD Plus Al Kautsar juga mendedikasikan dirinya sebagai sekolah berbasis produksi. Makanan dan minuman yang menyehatkan ini diproduksi sendiri oleh siswa dengan bimbingan guru.



Tahu istimewa merupakan produk unggulan di sekolah ini diproduksi dengan rasa khas gurih dan nikmat bahkan dapat langsung dikonsumsi sebelum diolah atau digoreng karena aman dari bahan kimia berbahaya. Selain tahu istimewa, sari kedelai diproduksi dalam bermacam rasa, seperti melon, strawberi, mocca, anggur, cokelat, dan orange. Tak heran produk ini sangat digemari para siswa.



Selain untuk mengenalkan jiwa wirausaha dengan melibatkan seluruh siswa mulai  proses produksi hingga penjualan, aktivitas ini bertujuan untuk mengajarkan pendidikan lingkungan hidup. Dalam produksi tahu istimewa ini, bahan tambahan yang digunakan adalah nigarin yaitu cairan yang diambil dari hasil proses penyulingan air laut. Karena menggunakan nigarin, tahu ini menjadi produksi alami bebas bahan pengawet dan bahan kimia berbahaya. Untuk proses komersialisasi, saat ini baik tahu istimewa maupun sari kedelai sudah terdaftar di Dinas Kesehatan dan Badan POM dengan merek dagang Telaga Al Kautsar Plus.



Disebut produksi non limbah karena tahu dan sari kedelai ini merupakan  produksi ramah lingkungan. Dalam proses produksinya semua bahan dan limbahnya dapat dimanfaatkan dan tak merusak lingkungan dan tak ada sisa bahan dan limbah sampah termasuk ampas kedelainya. Semua dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis makanan, dari pakan ternak, tempe, kripik, bahkan donat dan perkedel.



Salah satu makanan yang dapat dibuat dari limbah kedelai adalah donat ampas kedelai. Jika donat biasanya terbuat dari bahan tepung terigu dan kentang, donat ini terbuat dari bahan tepung terigu dan ampas kedelai. Rasanya pun tak kalah dengan donat biasanya. Tak heran donat ampas kedelai inipun banyak digemari siswa.




Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak