Jumat, 17 Juni 2016

Bertualang Menantang di Coban Baung


Jumat, 17 Juni 2016 19:12
Reportase : Lailatul Nuroniyah
Guru SD Plus Alkautsar Malang
fb.com/lailatul nuroniyah


BERKUNJUNG ke wisata religi pesarean Gunung Kawi, tak lengkap jika tak mampir ke tempat wisata alam lereng Gunung Kawi. Coban Baung namanya. Tempat wisata air terjun ini terletak di Desa Gendogo, Balesari, Kecamatan Ngajum, Malang. Sekitar 3 km dari lokasi wisata religi.

Coban Baung baru dibuka setahun silam oleh pemerintah setempat dan Perhutani. Sebelumnya tempat wisata ini hanya dikunjungi warga sekitar. Di lahan milik Perhutani seluas 70 hektar ini tidak hanya ada Coban Baung. Ada pula pura dan bumi perkemahan.

Siapa nyana, eksotika ini dikerjakan penduduk setempat dalam waktu beberapa bulan saja dengan alat-alat manual. Saat ini tempat wisata ini masih dalam tahap pengembangan.

Coban atau air terjun dengan ketinggian sekitar 70 meter ini memang cukup indah, eksotis dan masih perawan karena masih belum terjamah masyarakat luas. Di sini pengunjung akan dimanjakan dengan asrinya kawasan air terjun dengan kesegaran air terjun yang jernih.

Air terjun ini terletak di antara bebatuan yang dikelilingi hutan rimbun. Dalam perjalanan menuju lokasi rimbunnya pepohonan di hutan dan jernihnya sungai di tengah hutan ibarat hidangan pembuka sebelum ke lokasi air terjun Coban Baung.

Aksesnya mudah dijangkau. Hanya berjarak 1 km dari jalan raya yang bisa dilewati kendaraan bermotor hingga ke areal parkir yang dekat dengan sungai tempat air terjun. Jika berencana ke sini saat musim penghujan, harus sedikit berhati-hati karena jalan setapak menjadi lumayan licin dan naik turun.

Menuju ke lokasi, pengunjung harus menyusuri jalan setapak sekitar 600 meter dari tempat parkir kendaraan. Harga tiket masuk sangat terjangkau hanya Rp 5.000 per orang.

Bagi yang suka aktivitas luar ruang, Coban Baung bisa menjadi pilihan yang menawarkan pengalaman menyenangkan. Pengunjung bisa menikmati hijaunya suasana hutan dan gemuruh suara air terjun.

Fasilitas camping ground bagi yang ingin berkemah bisa menambah serunya petualangan di Coban Baung.

Semoga saja pemerintah dan warga setempat segera mengembangkan tempat wisata baru ini agar menjadi objek wisata kebanggaan warga Malang dan sekitarnya.




Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak     

Kedung Tumpang Menantang untuk Ditaklukkan



Jumat, 11 Desember 2015 18:33



Oleh : Lailatul Nuroniyah
Guru SD Plus Alkautsar Malang
fb.com/Lailatul Nuroniyah


BERBEDA dengan pantai pada jamaknya. Pantai unik dan cantik ini menarik hati pengunjung karena hadir tanpa hamparan pasir sama sekali.

Pantai Kedung Tumpang, terletak di Desa Pucanglaban, Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Wisatawan yang sebagian besar anak muda berdatangan menikmati suasana pantai yang dihiasi kolam-kolam kecil alami berikut deburan ombaknya yang besar.

Pantai yang baru dikenal warga sekitar lima bulan yang lalu ini baru dibuka pemerintah daerah setempat pada libur Lebaran lalu. Sebelumnya, pantai ini hanya dikunjungi oleh warga lokal untuk memancing dan menjaring udang.

Menuju bibir pantai, pengunjung harus menyusuri jalur yang cukup curam dan berat karena akses jaan yang masih sulit dilalui kendaraan khususnya kendaraan roda empat.

Untuk mencapai kawasan pantai, pengunjung harus naik ojek dengan tarif sebesar Rp 15.000 sekali jalan, dengan jarak tempuh sekitar 4 kilometer dari tempat parkir kendaraan.

Walaupun disebut dengan nama pantai, tetapi di Kedung Tumpang ini pengunjung tidak bisa menemukan pasir dan ombak yang bisa digunakan untuk bermain seperti biasanya. Yang didapati di sepanjang Pantai Kedung Tumpang adalah gugusan batu karang yang berbatasan langsung dengan samudera biru.

Tempat wisata Kedung Tumpang ini hanyalah sebuah gugusan karang dengan beberapa kolam yang terbentuk secara alami saja. Selain memiliki kolam yang warnanya indah, pantai ini juga masih asli dan belum banyak tersentuh tangan manusia.

Air dalam cekungan karang terlihat hijau kebiruan dengan gradasi kuning saat diamati dari atas tebing. Selain itu air di kolam-kolam tersebut sangat jernih, cantik dan eksotis yang sudah pasti menggoda siapapun untuk berenang di dalamnya. Kolam-kolam dengan bentuk tidak beraturan itu memiliki tinggi permukaan berbeda satu sama lain.

Inilah yang mendasari masyarakat setempat menyebut tempat itu sebagai kedung (lubuk atau bagian sungai yang dalam) dan tumpang karena posisinya yang saling bersusun.

Untuk menikmati pemandangan dan menuju kolam, pengunjung harus rela melalui tantangan dengan melewati jalan tangga turun ke pantai dengan bantuan akar pepohonan dan tali tampar.

Keberadaan akar dan tali ini untuk membantu pengunjung terutama yang tidak biasa melakukan aktivitas di alam terbuka untuk berpegangan saat berjalan. Di sekitar pantai terdapat beberapa kios pedagang yang hanya beratapkan terpal dengan tiang seadanya.

Lokasinya tersebar, beberapa ada yang di tempat parkir sepeda motor dan beberapa lainnya ada di lahan pertanian. Berwisata ke Kedung Tumpang memang penuh tantangan, tetapi sangat layak untuk dicoba bukan?





Editor: Tri Hatma Ningsih
sumber: surya cetak

Berburu Sate dan Nasgor Indonesia di Korea


Selasa, 26 Mei 2015 18:25

Oleh : Yulianto
Karyawan PT Haesung Co.Ltd, Masan, Korea Selatan


MEMBANGUN citra Indonesia di negara lain, bukan hanya tugas diplomat semata. Siapa pun, bahkan seluruh warga negara Indonesia bisa berperan serta menjunjung nama baik Indonesia di luar negeri. Tak terkecuali pelaku seni atau budayawan dengan unjuk wajah Indonesia.



Minggu (17/5/2015), sebagai warga negara Indonesia yang bekerja di Korea, kami memanfaatkan kesempatan menjadi bagian dari festival budaya antarnegara yang digelar di auditorium kantor Provinsi Gyeosangnamdo.



Korea Selatan dikenal sebagai negara kaya budaya dan tradisi. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya festival yang dihelat di negeri ginseng ini setiap tahunnya. Dari festival tarian tradisional, festival membuat makanan dan minuman tradisional, festival budaya internasional, dan lainnya.



Festival budaya internasional Together Day rutin digelar setiap tahun. Tahun 2015 ini digelar lewat tema 'Bersatunya Warga Dunia. Tak pelak, festival ini menjadi salah satu wadah eksplorasi budaya berbagai negara di dunia Otomatis, festival ini menarik banyak wisatawan asing karena melibatkan beberapa negara. Seperti Indonesia, China, Kamboja, Filipina, Srilangka, Nepal dan beberapa negara lainnya.



Festival digelar setiap tanggal 17 Mei ini menyajikan beberapa acara dan program, dari pertunjukkan tari tradisional, samulnori (musik perkusi tradisional Korea), K-Pop, dan makanan khas negara. Kali ini Indonesia menampilkan makanan tradisional nasi goreng dan sate Indonesia. Kedua makanan Indonesia ini menjadi favorit pengunjung. Tak heran jika makanan nasgor dan sate Indonesia ini langsung ludes diburu pengunjung festival ini.



Festival budaya ini juga memberi kesempatan bagi setiap negara peserta menampilkan karya seni terbaiknya, salah satu seni vokal. Dalam kompetisi menyanyi ini delegasi Indonesia meraup juara tiga di bawah Filipina dan China.





Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: surya cetak

Kolam cinta Jolotundo





Oleh : Lailatul Nuroniyah
Guru SD Plus Al-Kautsar Malang
fb.com/lailatul.nuroniyah



BERKUNJUNG ke Mojokerto tak lengkap bila tak menyinggahi tempat tetirah pemandian sumber mata air alami, Jolotundo. Terletak di lereng Gunung Penanggungan, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, keunikan Jolotuno adalah debit airnya tak pernah surut meski di musim kemarau panjang. Berdasar penelitian, kualitas air di Jolotundo ini sangat baik dan kandungan mineralnya sangat tinggi.



Menuju Jolotundo, semilir angin sejuk dari balik pepohonan pinus dan cemara yang banyak tumbuh di sisi jalan menjadikan perjalanan terasa nyaman. Panorama alam menawan, hijau persawahan, dan birunya Gunung Penanggungan menambah semangat untuk segera tiba di lokasi. Sesampainya di depan pemandian, susunan batu bekas candi yang tersusun rapi yang pertama menyapa. Pendopo dan gazebo di sna bisa dimanfaatkan untuk rehat.



Kolam pemandian Jolotundo atau kolam Udayana, Raja Bali ini disebut juga sebagai kolam cinta. Sejarah menautkan, keberadaan Candi Jolotundo (997 M) yang dipahatkan di sisi kanan tulisan Yenpeng kiri dinding belakang.



Sejarah berkisah bahwa Raja Udayana dari Bali menikahi Putri Guna Priya Dharma dari Jawa. Dari perkawinan lahirlah Airlangga (991 M). Jadi medio 997 M dianggap sebagai tahun pembuatan kolam cinta yang dipersiapkan Udayana. Candi ini merupakan monumen cinta kasih Raja Udayana untuk menyambut kelahiran anaknya, Prabu Airlangga, yang dibangun 997 M.



Satu dari dua kolam mandi itu memang tempat mandi sekaligus berendam sang ratu. Satu kolam lainnya untuk sang raja. Hingga kini, pembagian tempat berdasarkan gender tersebut masih berlaku bagi pengunjung. Di dinding batu khas bangunan candi itu diberi petunjuk pria di kolam mandi sisi timur, dan kolam mandi untu perempuan ada di sisi barat.



Karena Candi Jolotundo adalah pemandian ratu, tak sedikit pengunjung yang datang ngalap berkah dengan mandi di sini berharap secantik ratu di masa itu. Terlihat, pengunjung baik laki-laki maupun perempuan tak segan-segan menceburkan diri mandi di bilik  terpisah itu. Banyak yang meyakini mandi di pentirtaan ini bisa membuatnya awet muda, terbebas dari berbagai penyakit, utamanya penyakit kulit.



Tak sedikit juga terlihat di antara pengunjung membawa botol, jerigen bahkan galon air minum untuk membekal air Jolotundo. Mereka meyakini air yang keluar dari pancuran ini berkhasiat.




Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: surya cetak

Menaklukkan Waswas di Trawas



Minggu, 24 Mei 2015 19:14
Oleh : Lailatul Nuroniyah
Guru SD Plus Al-Kautsar Malang
fb.com/Lailatul Nuroniyah


SELAMA dua hari, Selasa-Rabu (28-29/4), 41 siswa SD Plus Al-Kautsar Malang mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar kepemimpinan dewan anak angkatan ketujuh, di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto.


Sebagai tempat pendidikan dan ekowisata, PPLH Seloliman Trawas dilengkapi penginapan menarik dengan konsep arsitektur unik. Beberapa guest house yang menampung empat hingga enam orang atau satu keluarga, bungalow, juga asrama. Suasana alam dengan konsep penataan lingkungan yang bersih dan sehat, terasa sejuk dan nyaman langsung dirasakan begitu menginjak Seloliman, Trawas.


Tak heran bila PPLH sering menjadi tempat rujukan bagi pelajar mulai TK hingga perguruan tinggi yang ingin belajar tentang alam dan lingkungan hidup. Panorama alam yang indah, gemericik air mengalir dari sungai kecil dan udara segar khas pegunungan masih mendominasi.


Percontohan sistem pertanian organik tanpa merusak lingkungan, tanpa pemakaian pupuk kimia dan pestisida bisa dipelajari di sini yang diharapkan mampu membangun pola pikir pengunjung dan proses pembelajaran bagi petani di sekitar PPLH Seloliman.

Salah satu fasilitas yang dikelola PPLH adalah Restoran Alas. Restoran ini menyediakan menu masakan serba alami. Bangunan terbuka di pinggir hutan dan dikelilingi kolam ikan menawarkan tantangan bagi siapapun yang ingin berinterkasi langsung dengan alam sambil menikmati santapan yang disajikan.
  
Di sini pengunjung dapat menikmati hidangan yang terjaga kualitasnya karena sejak proses pengolahan hingga penyajiannya tak diimbuhi bahan-bahan tambahan kimia seperti penyedap, pewarna, pengawet, dan lain-lain. Nah, bagi yang ingin berinteraksi langsung dengan alam, Trawas menjadi pilihan tepat untuk menaklukkan rasa was-was.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: surya cetak